Di antara goa yang ada di Tuban, Goa Ngerong bukan sekadar tujuan wisata. Goa Ngerong yang masih diliputi misteri itu juga menjadi urat nadi perekonomian masyarakat sekitarnya.

Goa Ngerong berada persis di kaki bukit pegunungan kapur di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Tak sulit untuk mencapai lokasi wisata petualangan yang sejak beberapa tahun terakhir mulai menggeliat init. Dari pusat kota Tuban berjarak 30 kilometer dengan akses transportasi umum yang mudah ditemui.

Goa Ngerong seperti sebuah magnet yang memiliki daya tarik luar biasa. Selimut misteri di sekelilingnya membuat banyak orang ingin datang dan datang lagi untuk berpetualang menyusuri lorong-lorongnya yang panjang dan gelap dengan kelelawar bergelantungan di dindingnya.

Pesona alam pertama yang biasa dituju pengunjung adalah sungai di mulut goa. Ribuan ikan berkeliaran di air sebening kaca, seolah-olah ikan-ikan itu berada di dalam akuarium raksasa.

Sejak dulu keberadaannya tetap seperti sekarang. Ikan-ikan itu tak pernah berpindah tempat meski aliran airnya cukup deras sampai jauh ke hulu dekat tempat pengeboran minyak.

Walau mengapung di atas air, sejenis ikan gabus ini sulit ditangkap. Sebagian warga mempercayai ikan-ikan itu piaraan Putri Ngerong, sehingga tak seorang pun yang berani menangkapnya. Namun, sebetulnya, pelarangan mengambil ikan di Kali Ngerong adalah bagian dari upaya pelestarian terhadap ikan-ikan itu sendiri.

“Kalau ditangkapi, cepat atau lambat akan habis dan punah,” tutur Sulhan, penduduk setempat, Sabtu 30 Januari 2010. Dengan umpan klentheng (biji kapuk/randu) yang dijual di kompleks goa, pengunjung bisa membuat ikan-ikan itu berlompatan.

“Ikan di sini lebih suka pada klentheng,” kata Darmi, salah seorang penjual klentheng yang harganya cuma Rp 500 per bungkus plastik ukuran ¼ kg.

Darmi mengaku dari hasil jualan klentheng, dalam sehari ia bisa membawa pulang uang tak kurang dari Rp 50 ribu di saat ramai pengunjung. “Pada hari-hari biasa, sekitar Rp 20 ribu. Lumayan sebagai tambahan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Berkah Ngerong bagi masyarakat sekitarnya bukan hanya dari penjualan klentheng. Perekonomian menggeliat juga dari penjualan kembang dan makanan hingga jasa parkir.

Kepala Desa Rengel, Mohamad Muhtar, menyatakan, tingkat kunjungan paling ramai pada Minggu dan hari libur nasional. Dari perolehan tiket masuk dan parkir, menurut Muhtar, dalam sebulan diperoleh pendapatan rata-rata sekitar Rp 5 sampai Rp 6 juta. Pendapatan itu dipakai untuk membantu biaya operasional pemerintahan desa.

Muhtar mengungkapkan, pihaknya kini tengah mengupayakan pengembangan Goa Ngerong, baik sebagai obyek wisata maupun sebagai sumber air yang akan didistribusikan untuk kepentingan irigasi pertanian.*

http://jatim.vivanews.com/news/read/125550-goa_ngerong__misteri_dan_urat_nadi_ekonomi